Cerebral Palsy
Pengertian Cerebral Palsy
Terdapat berbagai macam penyakit yang dapat
menyerang tumbuh kembang anak, salah satu di antaranya adalah Cerebral Palsy.
Dalam kesempatan kali ini, kita akan membahas lebih dalam mengenai Cerebral
Palsy sebagai upaya menciptakan early
awareness kepada para orang tua maupun calon orang tua. Selain itu, kita
juga akan mengetahui kemungkinan penanggulangan anak yang terserang Cerebral
Palsy.
Cerebral Palsy atau biasa dikenal dengan
istilah CP (re: si – pi) merupakan
penyakit yang menyerang anak-anak dan mengakibatkan kelumpuhan otak besar.
Kelumpuhan otak besar selanjutnya dapat menyebabkan keadaan di mana anak-anak
mengalami kesulitan dalam pengendalian otot, koordinasi gerak, dan gangguan
fungsi saraf lainnya. CP menurut Soeharso (2006), juga dikenal sebagai
terminologi untuk mendeskripsikan kelompok penyakit kronik yang mengenai pusat
pengendalian pergerakan, sehingga penyakit ini tidak disebabkan oleh masalah
otot ataupun jaringan saraf tepi melainkan terjadi kesalahan dalam perkembangan
atau kerusakan pada area motorik otak yang akan mengganggu kemampuan otak untuk
mengontrol pergerakan dan postur secara adekuat. Penderita penyakit CP
terkadang juga menderita penyakit lain seperti, gangguan mental, epilepsi, dan
gangguan pertumbuhan lainnya.
penyebab Cerebral Palsy
Salah satu pertanyaan yang paling sering
ditanyakan mengenai CP adalah penyebab dari penyakit ini. Tentu saja penyebab
dari penyakit ini menjadi suatu hal yang sangat krusial, karena dengan orang
tua mengetahui penyebab terjadinya penyakit ini kemungkinan pencegahan pun
menjadi semakin besar. CP merupakan penyakit yang tidak disebabkan oleh satu
kejadian ataupun keadaan. Ada berbagai macam kemungkinan penyebab CP yang
bergantung dari riwayat kesehatan baik ibu maupun anak. Penyebab tersebut dapat
juga digolongkan berdasarkan periode kehaliman menjadi tiga bagian, yaitu:
Prenatal, Perinatal, dan Postnatal. Berikut ini akan kita bahas lebih mendalam
mengenai penyebab di masing-masing periode kehamilan.
Penyebab CP pada periode Prenatal (masa
kehamilan) mayoritas terjadi karena infeksi yang dialami oleh janin dalam
kandungan. Infeksi tersebut disebabkan oleh virus-virus yang menyerang ibu dan
janin. Contoh infeksi yang terjadi selama masa kehamilan adalah infeksi
Rubella, Toxoplasma, virus Herpes, serta Sifilis. Selain disebabkan oleh
infeksi, selama masa kehamilan CP juga dapat disebabkan oleh trauma yang
dialami, pendarahan plasenta, dan hipertensi ibu hamil. Secara keseluruhan
dapat disimpulkan, penyebab CP yang terjadi selama masa kehamilan merupakan
akibat dari lingkungan yang tidak sehat dan tepat untuk ibu hamil berada. Ibu
hamil serta suami merupakan penentu dalam pencegahan CP selama masa kehamilan.
Hindari aktifitas yang memungkinkan ibu dapat terinfeksi virus serta jaga
kesehatan fisik maupun emosi dengan baik, sehingga tidak terjadi trauma ataupun
hipertensi terhadap ibu hamil.
Selanjutnya, penyebab CP pada periode
Perinatal (masa kelahiran). Selama proses kelahiran terdapat kemungkinan bayi
mengalami kekurangan oksigen berat atau yang biasa dikenal dengan hipoksia.
Keadaan hipoksia merupakan salah satu penyebab CP pada masa kelahiran.
Dikarenakan sangat rendahnya suplai oksigen ke otak maka terjadi kerusakan otak
berat pada bayi baru lahir yang bahkan dapat menyebabkan kematian, bayi yang
berhasil selamat dan hidup biasanya akan menjadi penderita CP yang dapat juga
disertai kejang dan gangguan mental. Selain hipoksia, penyebab CP pada masa
kelahiran adalah trauma pada kepala bayi. Penelitian juga menunjukkan bahwa
setengah dari anak-anak penderita CP merupakan bayi yang lahir premature.
Kesimpulannya adalah penyebab CP pada masa kelahiran merupakan keadaan-keadaan
yang tidak dapat diperkirakan. Keadaan seperti hipoksia, trauma pada kepala
bayi, maupun kelahiran premature bukan merupakan hal yang dapat kita atur dan
cegah. Sebagai orang tua maupun calon orang tua yang dapat dilakukan adalah
memastikan bayi dalam keadaan sehat selama dalam kandungan, sehingga proses
persalinan dapat berjalan dengan lancar. Karena ketika bayi dalam kandungan
sehat dan lahir sesuai dengan waktunya (tidak premature) maka kemungkinan bayi
untuk mengalami kesulitan dalam proses persalinan pun menjadi semakin kecil.
CP pada periode Postnatal (masa setelah
kelahiran) dapat disebabkan oleh trauma kepala akibat benturan ataupun
kekerasan maupun infeksi. Benturan kepala pada bayi ataupun anak-anak dapat
menyebabkan kerusakan otak. Benturan pada kepala sering terjadi akibat
kecelakaan lalu lintas yang dialami oleh anak ataupun kekerasan terhadap anak
yang terjadi dalam keluarga. Selain berupa benturan, CP juga dapat disebabkan
oleh infeksi bakteri seperti contohnya meningitis pada otak. Infeksi ini
menyebabkan kerusakan otak yang membuat anak penderita CP mengalami
keterlambatan pertumbuhan dan reflek gerak dibandingkan anak lain. Orang tua
dapat melakukan pencegahan penyebab CP pada periode Postnatal dengan memastikan
anak tidak mengalami luka ataupun kekerasan yang mengenai bagian kepala. Sebagai
penjaga orang tua diharapkan dapat memastikan keselamatan anak selama bermain
dan ataupun dalam perjalanan. Sayangnya, penyebab CP pada masa Postnatal juga
dapat terjadi akibat kekerasan dalam keluarga yang dialami oleh anak. Anak
mengalami penganiyaan yang menyebabkan terjadi kerusakan pada bagian otak.
Kekerasan dalam keluarga terhadap anak dapat dilakukan oleh siapapun baik
disengaja maupun tidak, bahkan orang tua pun tanpa disadari dapat melakukannya.
Oleh karena itu, pernyataan bahwa lingkungan anak tumbuh besar merupakan faktor
penting dalam menentukan masa depan anak nantinya. Bukan saja dapat menentukan
keberhasilan hidup seorang anak nantinya, lingkungan juga dapat menentukan
keberlangsungan anak untuk dapat bertahan hidup dengan sehat dan normal.
Penderita CP menurut Adnyana (1995) dapat
digolongkan berdasarkan derajat beratnya penyakit dan kemampuan penderita untuk
melakukan aktivitas normal menjadi 3 bagian, yaitu: penderita ringan, sedang,
dan berat. Penderita CP dinyatakan pada derajat ringan ditunjukkan dengan
kemampuannya dalam melakukan aktivitas sehari-hari dengan baik dan sedikit
sekali atau sama sekali tidak membutuhkan bantuan orang lain dalam
beraktivitas. Bagaimana dengan penderita CP derajat sedang? Pada penderita CP
derajat sedang sudah ditemukan berbagai keterbatasan dalam beraktivitas.
Penderita juga membutuhkan banyak bantuan bahkan mulai dari berbicara, serta
melakukan kegiatan yang membutuhkan kemampuan gerak yang teratur seperti
mengancing baju. Penderita dengan derajat sedang biasanya diberikan pendidikan
khusus untuk mengejar ketertinggalan pertumbuhannya. Dengan memberikan banyak
bantuan dan pengajaran diharapkan penderita dapat bergerak dan berjalan sendiri
dan beraktivitas lainnya dengan mandiri walau tetap sedikit tertinggal
dibandingkan anak normal lain. Penderita CP dengan derajat berat dapat
digolongkan dengan jelas dengan melihat ketidakmampuan sama sekali dalam
beraktivitas. Penderita tidak dapat melakukan kegiatan fisik apapun dan tidak
mungkin beraktivitas tanpa bantuan orang lain disekitarnya. Pendidikan khusus
tidak lagi menunjukkan hasil signifikan seperti pada derajat sedang. Penderita
biasanya akan dirawat pada rumah perawatan khusus.
Lalu bagaimanakah kita sebagai orang tua
dapat mendeteksi secara dini penyakit CP yang menyerang anak kita? Hal pertama
yang dapat dilakukan adalah memperhatikan pertumbuhan awal anak. Tanda awal CP
biasanya sudah dapat terlihat sejak usia anak kurang dari tiga tahun. Usia
tersebut merupakan usia di mana terjadi pertumbuhan dan perkembangan yang
sangat pesat pada anak. Bukan hanya secara ukuran bertambah besar, akan tetapi
anak juga menunjukkan banyak perkembangan gerak motorik selama usia tersebut.
Anak penderita CP akan menunjukkan keterlambatan perkembangan pada usia
tersebut. Misal pada usia tertentu bayi sehat sudah dapat tengkurap, bayi CP
tidak. Bayi CP terlihat kaku dan tidak banyak merespon bahkan menunjukkan
postur tidak normal pada satu sisi tubuh.
Selain dengan melihat tumbuh kembang anak,
orang tua juga dapat melakukan pemeriksaan-pemeriksaan di awal kelahiran bayi
untuk memastikan bayi sehat. Pemeriksaan yang dapat dilakukan untuk memastikan
bayi tidak menderita CP adalah berupa pemeriksaan fisik dan pemeriksaan
neuroradiologik. Pemeriksaan fisik pada bayi dapat dilakukan dengan melakukan
pengukuran lingkar kepala dan gerak refleks bayi, sedangkan pemeriksaan
neuroradiologik dapat dilakukan dengan melakukan CT-Scan ataupun MRI pada bayi. Dengan dilakukannya pemeriksaan dini
pada bayi maka orang tua dapat lebih cepat mengetahui jika memang anaknya
memiliki gejala awal CP atau tidak dan dapat segera melakukan pencegahan maupun
penanggulangan. Dengan kata lain, sekali lagi peran orang tua adalah peran yang
paling menentukan kesehatan anak. Orang tua yang peduli dan cepat serta waspada
terhadap segala kemungkinan tentunya sangatlah dibutuhkan oleh anak-anak.
CP sebagai suatu penyakit yang diderita
oleh anak-anak belum ditemukan metode penyembuhannya dan merupakan kelainan
yang akan berlangsung seumur hidup. Akan tetapi fakta tersebut jangan dijadikan
sebagai jalan buntu bagi para orang tua yang memiliki anak penderita CP. Kenapa
seperti itu? Karena ada banyak cara untuk melatih anak untuk menjadi semandiri
mungkin sesuai derajat berat penyakit yang diderita. Baik CP dengan derajat
ringan, sedang, maupun berat memiliki batas mandiri yang paling mungkin dicapai
oleh anak. Jangan berputus asa dan tetaplah lakukan segala upaya yang mungkin
dilakukan, seperti terapi, pengobatan, ataupun pembedahan.
Terapi yang mungkin dilakukan pada
penderita CP adalah terapi fisik untuk menanggulangi keterbatasan serta
gangguan motorik. Prosedur ortopedik sudah sangat banyak macamnya yang dapat
membantu membangun kembali keseimbangan tubuh anak, maupun memperbaiki
bagian-bagian tubuh yang tidak merespon sangat diberikan rangsangan. Terapi
fisik yang dilakukan pada anak penderita CP juga dapat bertujuan meningkatkan
kekuatan otot-otot yang lemah sehingga dapat digunakan secara normal. Pengobatan
yang diberikan pada penderita CP biasanya merupakan penanggulangan dalam
mengatasi gangguan emosi penderita. Pengobatan merupakan salah satu upaya
penanggulangan yang sangat dibutuhkan, karena saat penderita mengalami gangguan
emosi yang cukup parah akan menyebabkan gangguan gerakan yang cukup parah juga.
Lain lagi dengan pembedahan. Pembedahan yang dapat dilakukan pada penderita CP
merupakan pembedahan pada bagian-bagian tubuh yang tidak dapat diperbaiki
dengan terapi dan menyebabkan masalah pergerakan yang sangat berat.
Berikut tadi berbagai fakta tentang CP
yang telah kita ketahui bersama sekarang. Tentu penyakit CP tidak bisa ketahui
kapan dan mengapa terjadi pada anak-anak kita, akan tetapi kewaspadaan kita
dalam mencegah dan menanggulangi penyakit CP dapat memberikan perbedaan yang
signifikan terhadap kesehatan anak. Oleh karena itu jangan malas belajar,
jangan ragu bertanya, dan tetaplah pelihara hidup sehat demi mereka anak-anak
kita.
Cara kerja Transfer factor yang mampu menurunkan, mendidik, menstabilakan dan mencerdaskan imun kita, sangat TEPAT untuk kasus-kasus autoimun.
info lain tentang autoimun,Transfer factor dan bagaimana transfer factor bekerja untuk CP, silahkan hubungi:
Ani purwati
HP/WA: 081911562390
www.ani-4lifetransferfactor.com