Cerebral Palsy


  Cerebral Palsy 


penyakit celebral palsySetiap orang tua tentu memimpikan anak-anak yang kita terima sebagai titipan dari Yang Maha Kuasa, dapat tumbuh dengan sehat dan tidak kekurangan sesuatu apapun. Akan tetapi, ancaman penyakit anak di masa kini sudahlah tentu tidak dapat dihiraukan lagi. Saat suatu pasangan suami-istri dikaruniai anak yang sehat dan penuh tawa, terdapat pasangan lain yang harus berjuang menguras peluh dan air mata, untuk memastikan anaknya dapat bertahan hidup dengan melawan penyakit yang menyerang anaknya. Oleh karena itu, waspada sejak dini terhadap kemungkinan penyakit anak yang dapat menyerang sangatlah diperlukan bagi para orang tua. Penelitian mulai bermunculan sebagai rangkaian penanggulangan penyakit anak, mulai dari penyebab awal dan metode pencegahan berbagai macam penyakit anak. 

 Pengertian Cerebral Palsy

Terdapat berbagai macam penyakit yang dapat menyerang tumbuh kembang anak, salah satu di antaranya adalah Cerebral Palsy. Dalam kesempatan kali ini, kita akan membahas lebih dalam mengenai Cerebral Palsy sebagai upaya menciptakan early awareness kepada para orang tua maupun calon orang tua. Selain itu, kita juga akan mengetahui kemungkinan penanggulangan anak yang terserang Cerebral Palsy.
Cerebral Palsy atau biasa dikenal dengan istilah CP (re: si – pi) merupakan penyakit yang menyerang anak-anak dan mengakibatkan kelumpuhan otak besar. Kelumpuhan otak besar selanjutnya dapat menyebabkan keadaan di mana anak-anak mengalami kesulitan dalam pengendalian otot, koordinasi gerak, dan gangguan fungsi saraf lainnya. CP menurut Soeharso (2006), juga dikenal sebagai terminologi untuk mendeskripsikan kelompok penyakit kronik yang mengenai pusat pengendalian pergerakan, sehingga penyakit ini tidak disebabkan oleh masalah otot ataupun jaringan saraf tepi melainkan terjadi kesalahan dalam perkembangan atau kerusakan pada area motorik otak yang akan mengganggu kemampuan otak untuk mengontrol pergerakan dan postur secara adekuat. Penderita penyakit CP terkadang juga menderita penyakit lain seperti, gangguan mental, epilepsi, dan gangguan pertumbuhan lainnya.

penyebab Cerebral Palsy

Salah satu pertanyaan yang paling sering ditanyakan mengenai CP adalah penyebab dari penyakit ini. Tentu saja penyebab dari penyakit ini menjadi suatu hal yang sangat krusial, karena dengan orang tua mengetahui penyebab terjadinya penyakit ini kemungkinan pencegahan pun menjadi semakin besar. CP merupakan penyakit yang tidak disebabkan oleh satu kejadian ataupun keadaan. Ada berbagai macam kemungkinan penyebab CP yang bergantung dari riwayat kesehatan baik ibu maupun anak. Penyebab tersebut dapat juga digolongkan berdasarkan periode kehaliman menjadi tiga bagian, yaitu: Prenatal, Perinatal, dan Postnatal. Berikut ini akan kita bahas lebih mendalam mengenai penyebab di masing-masing periode kehamilan.
Penyebab CP pada periode Prenatal (masa kehamilan) mayoritas terjadi karena infeksi yang dialami oleh janin dalam kandungan. Infeksi tersebut disebabkan oleh virus-virus yang menyerang ibu dan janin. Contoh infeksi yang terjadi selama masa kehamilan adalah infeksi Rubella, Toxoplasma, virus Herpes, serta Sifilis. Selain disebabkan oleh infeksi, selama masa kehamilan CP juga dapat disebabkan oleh trauma yang dialami, pendarahan plasenta, dan hipertensi ibu hamil. Secara keseluruhan dapat disimpulkan, penyebab CP yang terjadi selama masa kehamilan merupakan akibat dari lingkungan yang tidak sehat dan tepat untuk ibu hamil berada. Ibu hamil serta suami merupakan penentu dalam pencegahan CP selama masa kehamilan. Hindari aktifitas yang memungkinkan ibu dapat terinfeksi virus serta jaga kesehatan fisik maupun emosi dengan baik, sehingga tidak terjadi trauma ataupun hipertensi terhadap ibu hamil.
Selanjutnya, penyebab CP pada periode Perinatal (masa kelahiran). Selama proses kelahiran terdapat kemungkinan bayi mengalami kekurangan oksigen berat atau yang biasa dikenal dengan hipoksia. Keadaan hipoksia merupakan salah satu penyebab CP pada masa kelahiran. Dikarenakan sangat rendahnya suplai oksigen ke otak maka terjadi kerusakan otak berat pada bayi baru lahir yang bahkan dapat menyebabkan kematian, bayi yang berhasil selamat dan hidup biasanya akan menjadi penderita CP yang dapat juga disertai kejang dan gangguan mental. Selain hipoksia, penyebab CP pada masa kelahiran adalah trauma pada kepala bayi. Penelitian juga menunjukkan bahwa setengah dari anak-anak penderita CP merupakan bayi yang lahir premature. Kesimpulannya adalah penyebab CP pada masa kelahiran merupakan keadaan-keadaan yang tidak dapat diperkirakan. Keadaan seperti hipoksia, trauma pada kepala bayi, maupun kelahiran premature bukan merupakan hal yang dapat kita atur dan cegah. Sebagai orang tua maupun calon orang tua yang dapat dilakukan adalah memastikan bayi dalam keadaan sehat selama dalam kandungan, sehingga proses persalinan dapat berjalan dengan lancar. Karena ketika bayi dalam kandungan sehat dan lahir sesuai dengan waktunya (tidak premature) maka kemungkinan bayi untuk mengalami kesulitan dalam proses persalinan pun menjadi semakin kecil.
CP pada periode Postnatal (masa setelah kelahiran) dapat disebabkan oleh trauma kepala akibat benturan ataupun kekerasan maupun infeksi. Benturan kepala pada bayi ataupun anak-anak dapat menyebabkan kerusakan otak. Benturan pada kepala sering terjadi akibat kecelakaan lalu lintas yang dialami oleh anak ataupun kekerasan terhadap anak yang terjadi dalam keluarga. Selain berupa benturan, CP juga dapat disebabkan oleh infeksi bakteri seperti contohnya meningitis pada otak. Infeksi ini menyebabkan kerusakan otak yang membuat anak penderita CP mengalami keterlambatan pertumbuhan dan reflek gerak dibandingkan anak lain. Orang tua dapat melakukan pencegahan penyebab CP pada periode Postnatal dengan memastikan anak tidak mengalami luka ataupun kekerasan yang mengenai bagian kepala. Sebagai penjaga orang tua diharapkan dapat memastikan keselamatan anak selama bermain dan ataupun dalam perjalanan. Sayangnya, penyebab CP pada masa Postnatal juga dapat terjadi akibat kekerasan dalam keluarga yang dialami oleh anak. Anak mengalami penganiyaan yang menyebabkan terjadi kerusakan pada bagian otak. Kekerasan dalam keluarga terhadap anak dapat dilakukan oleh siapapun baik disengaja maupun tidak, bahkan orang tua pun tanpa disadari dapat melakukannya. Oleh karena itu, pernyataan bahwa lingkungan anak tumbuh besar merupakan faktor penting dalam menentukan masa depan anak nantinya. Bukan saja dapat menentukan keberhasilan hidup seorang anak nantinya, lingkungan juga dapat menentukan keberlangsungan anak untuk dapat bertahan hidup dengan sehat dan normal.
Penderita CP menurut Adnyana (1995) dapat digolongkan berdasarkan derajat beratnya penyakit dan kemampuan penderita untuk melakukan aktivitas normal menjadi 3 bagian, yaitu: penderita ringan, sedang, dan berat. Penderita CP dinyatakan pada derajat ringan ditunjukkan dengan kemampuannya dalam melakukan aktivitas sehari-hari dengan baik dan sedikit sekali atau sama sekali tidak membutuhkan bantuan orang lain dalam beraktivitas. Bagaimana dengan penderita CP derajat sedang? Pada penderita CP derajat sedang sudah ditemukan berbagai keterbatasan dalam beraktivitas. Penderita juga membutuhkan banyak bantuan bahkan mulai dari berbicara, serta melakukan kegiatan yang membutuhkan kemampuan gerak yang teratur seperti mengancing baju. Penderita dengan derajat sedang biasanya diberikan pendidikan khusus untuk mengejar ketertinggalan pertumbuhannya. Dengan memberikan banyak bantuan dan pengajaran diharapkan penderita dapat bergerak dan berjalan sendiri dan beraktivitas lainnya dengan mandiri walau tetap sedikit tertinggal dibandingkan anak normal lain. Penderita CP dengan derajat berat dapat digolongkan dengan jelas dengan melihat ketidakmampuan sama sekali dalam beraktivitas. Penderita tidak dapat melakukan kegiatan fisik apapun dan tidak mungkin beraktivitas tanpa bantuan orang lain disekitarnya. Pendidikan khusus tidak lagi menunjukkan hasil signifikan seperti pada derajat sedang. Penderita biasanya akan dirawat pada rumah perawatan khusus.
Lalu bagaimanakah kita sebagai orang tua dapat mendeteksi secara dini penyakit CP yang menyerang anak kita? Hal pertama yang dapat dilakukan adalah memperhatikan pertumbuhan awal anak. Tanda awal CP biasanya sudah dapat terlihat sejak usia anak kurang dari tiga tahun. Usia tersebut merupakan usia di mana terjadi pertumbuhan dan perkembangan yang sangat pesat pada anak. Bukan hanya secara ukuran bertambah besar, akan tetapi anak juga menunjukkan banyak perkembangan gerak motorik selama usia tersebut. Anak penderita CP akan menunjukkan keterlambatan perkembangan pada usia tersebut. Misal pada usia tertentu bayi sehat sudah dapat tengkurap, bayi CP tidak. Bayi CP terlihat kaku dan tidak banyak merespon bahkan menunjukkan postur tidak normal pada satu sisi tubuh.
Selain dengan melihat tumbuh kembang anak, orang tua juga dapat melakukan pemeriksaan-pemeriksaan di awal kelahiran bayi untuk memastikan bayi sehat. Pemeriksaan yang dapat dilakukan untuk memastikan bayi tidak menderita CP adalah berupa pemeriksaan fisik dan pemeriksaan neuroradiologik. Pemeriksaan fisik pada bayi dapat dilakukan dengan melakukan pengukuran lingkar kepala dan gerak refleks bayi, sedangkan pemeriksaan neuroradiologik dapat dilakukan dengan melakukan CT-Scan ataupun MRI pada bayi. Dengan dilakukannya pemeriksaan dini pada bayi maka orang tua dapat lebih cepat mengetahui jika memang anaknya memiliki gejala awal CP atau tidak dan dapat segera melakukan pencegahan maupun penanggulangan. Dengan kata lain, sekali lagi peran orang tua adalah peran yang paling menentukan kesehatan anak. Orang tua yang peduli dan cepat serta waspada terhadap segala kemungkinan tentunya sangatlah dibutuhkan oleh anak-anak.
CP sebagai suatu penyakit yang diderita oleh anak-anak belum ditemukan metode penyembuhannya dan merupakan kelainan yang akan berlangsung seumur hidup. Akan tetapi fakta tersebut jangan dijadikan sebagai jalan buntu bagi para orang tua yang memiliki anak penderita CP. Kenapa seperti itu? Karena ada banyak cara untuk melatih anak untuk menjadi semandiri mungkin sesuai derajat berat penyakit yang diderita. Baik CP dengan derajat ringan, sedang, maupun berat memiliki batas mandiri yang paling mungkin dicapai oleh anak. Jangan berputus asa dan tetaplah lakukan segala upaya yang mungkin dilakukan, seperti terapi, pengobatan, ataupun pembedahan.
Terapi yang mungkin dilakukan pada penderita CP adalah terapi fisik untuk menanggulangi keterbatasan serta gangguan motorik. Prosedur ortopedik sudah sangat banyak macamnya yang dapat membantu membangun kembali keseimbangan tubuh anak, maupun memperbaiki bagian-bagian tubuh yang tidak merespon sangat diberikan rangsangan. Terapi fisik yang dilakukan pada anak penderita CP juga dapat bertujuan meningkatkan kekuatan otot-otot yang lemah sehingga dapat digunakan secara normal. Pengobatan yang diberikan pada penderita CP biasanya merupakan penanggulangan dalam mengatasi gangguan emosi penderita. Pengobatan merupakan salah satu upaya penanggulangan yang sangat dibutuhkan, karena saat penderita mengalami gangguan emosi yang cukup parah akan menyebabkan gangguan gerakan yang cukup parah juga. Lain lagi dengan pembedahan. Pembedahan yang dapat dilakukan pada penderita CP merupakan pembedahan pada bagian-bagian tubuh yang tidak dapat diperbaiki dengan terapi dan menyebabkan masalah pergerakan yang sangat berat. 
Berikut tadi berbagai fakta tentang CP yang telah kita ketahui bersama sekarang. Tentu penyakit CP tidak bisa ketahui kapan dan mengapa terjadi pada anak-anak kita, akan tetapi kewaspadaan kita dalam mencegah dan menanggulangi penyakit CP dapat memberikan perbedaan yang signifikan terhadap kesehatan anak. Oleh karena itu jangan malas belajar, jangan ragu bertanya, dan tetaplah pelihara hidup sehat demi mereka anak-anak kita.

Anda sudah familiar dengan istilah Autoimun bukan? CP merupakan salah satu penyakit yang masuk dalam kategori autoimun.
Cara kerja Transfer factor yang mampu menurunkan, mendidik, menstabilakan dan mencerdaskan imun kita, sangat TEPAT untuk kasus-kasus autoimun.
info lain tentang autoimun,Transfer factor dan bagaimana transfer factor bekerja untuk CP, silahkan hubungi:

Ani purwati
HP/WA: 081911562390
www.ani-4lifetransferfactor.com